Kekeliruan Manusia dalam Menempatkan Diri
kekeliruan manusia dalam menempatkan diri
 
Kekeliruan manusia dalam menempatkan diri sebagai seorang hamba Allah di antaranya adalah masih lemahnya keyakinan akan keberadaan Allah sebagai Tuhan Yang Maha Berkuasa atas segala sesuatu.
 
Iman seorang hamba yang kuat akan menempatkan keberadaan dirinya di dalam kekuasaan Allah, bukan di luar kekuasaan-Nya.
 
Kebanyakan hanya terucap di bibir tapi tidak yang sesungguhnya, bahwa seorang hamba adalah lemah di hadapan kekuasaan-Nya.
 
Kekeliruan dalam menempatkan diri tersebut berdampak tidak positif, yakni tidak mudah merespon dengan sungguh-sungguh apa yang menjadi kehendak Allah Yang Maha Berkuasa lagi Maha Pencipta.
 
Dalam kedudukan Allah sebagai Tuhan Yang Maha Berkuasa, Dia (Allah) memiliki kekuatan mutlak yang tak terkalahkan oleh makhluk ciptaan-Nya.

1# Keliru dalam Menempatkan Diri

Oleh karena itu, orang-orang beriman tidak patut dirinya merasa mempunyai kekuasaan atas segala hal yang dimilikinya, baik materi maupun non materi. Semuanya adalah milik Allah, bukan milik makhluk-Nya.
 
Keliru jika orang kaya, pejabat, pengusaha, pemikir, penulis, penyair, penghibur (seniman), karyawan dan petani memandang dirinya sukses karena perbuatan dirinya tanpa karena pertolongan Allah sebagai wujud akan kedudukan Diri-Nya sebagai Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Pemurah.
 
Adakah kesuksesan semata-mata atas perjuangan sendiri seorang hamba tanpa pertolongan Allah? Jawabnya tentu tidak.
 
Kemampuan manusia untuk berbuat dengan hartanya, dengan pemikirannya, dengan jabatannya, dan dengan lain-lain hal yang telah dianugerahkan Allah kepada dirinya, sangat jelas bahwa mustahil Allah tidak berada di balik semua itu.
 
Sebagai Tuhan Yang Maha Berkuasa, Allah Yang Maha Pencipta akan menjadikan apa yang telah didapatkannya sebagai ujian dan cobaan.
 
Adakah manusia yang telah mengaku beriman dia menyadari bahwa Allah telah menolongnya, dan segera menyadari bahwa dirinya adalah makhluk ciptaan Allah yang sudah seharusnya mengabdikan diri di hadapan kemahabesaran Allah?
 
Angkuh, sombong, takabur, dan lain-lain sifat kepribadian sedemikian hingga merasa telah mampu berbuat tanpa pertolongan Allah, dan karena itu, tak ada kepentingan yang harus diperbuat untuk mendekatkan diri kepada Allah, adalah kekeliruan terbesar yang akan menyeret dirinya menjadi seorang hamba yang dibenci oleh Allah. Naudzu billahi tsumma nudzu bilahi min dzalik.

2# Sepatutnya dalam Menempatkan Diri

Kepribadian orang beriman yang sebenar-benar beriman, sebaliknya, dia tak lagi berani menjauhi Allah untuk tak mau tunduk dan patuh terhadap apa pun yang menjadi kehendak Allah.
 
Orang beriman telah terbangun kesadarannya, bahwa semua adalah milik Allah, yang ada pada dirinya adalah kepapahan, kekurangan, ketidakberdayaan dan berbagai kelemahan, yang jika tidak karena pertolongan Allah, mustahil bagi dirinya mampu untuk berbuat di dalam kekuasaan Allah Yang Maha Menguasai Hari Pembalasan.
 
Oleh karena itu, respon orang-orang beriman yang sesungguhnya beriman adalah
 
  1. Mencintai Allah dengan setulus hati;
  2. Menyandarkan segala kebutuhannya hanya kepada Allah;
  3. Sangat mengandalkan Allah dari segala ketidakberdayaannya menghadapi gangguan dan godaan iblis;
  4. Sangat membutuhkan akan pertolongan Allah atas kekurangan dirinya;
  5. Mendambakan Allah atas keluasan kasih sayang-Nya;
  6. Berharap Allah dekat dengan dirinya; dan
  7. Secara terus menerus berada di jalan-Nya yang lurus.
 
Orang-orang beriman yang benar-benar beriman sangat takut berdusta, berbohong, berpura-pura saleh terhadap segala perintah dan larangan Allah Yang Maha Berkuasa lagi Maha Penyayang.***
_______________________
 
Untuk pendalaman, silakan baca:
  1. Pentingnya Belajar Mengendalikan Hawa Nafsu
  2. Kesadaran Spiritual Perubahan Mendasar dalam Kehidupan
  3. Cinta Sejati Seorang Hamba Kepada Allah

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Scroll to Top