CARA MENGENAL KEHENDAK ALLAH DI DALAM DIRI

 
Mengenali apa yang menjadi kehendak Allah di dalam diri atau jiwa atau hati atau ruh haruslah diperjuangkan dengan bersungguh-sungguh mengenali apa yang telah difirmankan Allah di dalam Al-Quran.
 
Tekad yang kuat untuk menjadi seorang hamba Allah harus benar-benar berjuang mempedomani Al-Quran yang telah diturunkan oleh Allah melalui Rasul-Nya saw.
 
Pada kitab-Nya semua telah diterangkan. Pokok-pokok keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya juga telah banyak diterangkan di dalamnya.
 
Ikrar diri atas kedudukan Allah sebagai satu-satunya Tuhan dan Muhammad adalah utusan-Nya merupakan sebuah fondasi yang dipersiapkan untuk mengikuti aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya saw.
 
Tidaklah cukup hanya berbekal ikrar tersebut kaum Muslim telah dianggap memenuhi kehendak Allah. Masih banyak yang harus segera dipenuhi sebagaimana yang dikehendaki Allah.
 
Ikrar tauhidullah dan kerasulan Muhammad saw dilanjutkan dengan berbuat kebajikan (beramal saleh): salat, puasa, mengeluarkan zakat dan menunaikan ibadah haji bagi yang mampu (jasmani dan ruhani, fisik dan non fisik, materi dan non materi dsb mencakup kemampuan dua unsur keberadaan atau eksistensi manusia).
 
Iman yang kokoh terhadap keesaan Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para Nabi dan Rasul-Nya, ketetapan dan kehendak-Nya (qadha dan qadar), yaumil akhir (ada juga yang meyakini berbuat adil termasuk rukun iman -- dari mazhab Syi'i) tidak dapat terlepas dari aqidah atau keyakinan kaum Muslim.

Memadukan Dua Rukun

Memadukan keduanya (rukun Islam dan rukun iman) harus menghasilkan kebajikan-kebajikan (ihsan) terhadap eksistensi kaum Mukmin sebagai hamba Allah.
 
Jika terjadi sebaliknya, maka belumlah disebut telah berakhir perjuangan seorang Muslim dalam bergerak menuju kepada apa yang telah dikehendaki oleh Allah di dalam Al-Quran, yaitu derajat takwa yang sebenar-benar bertakwa kepada-Nya (ittaqillah haqqa tuqatih).
 
Adakah yang sudah memenuhi kehendak Allah dari kedua rukun yang telah dijalankan selama ini menjadi ihsan?
 
Ambil contoh, salat (rukun Islam) yang dilandaskan pada kekuatan iman kepada ada-Nya (Allah) Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang (rukun iman) telah mengantarkan pelaku salat tersebut dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar (ihsan)?
 
Pertanyaan semacam itu tidak dapat diabaikan begitu saja tanpa adanya jawaban aplikatif dalam kedudukan seorang Muslim yang betul-betul beriman kepada Allah dan Rasul-Nya saw.
 
Dan, inilah yang masih belum banyak mendapat perhatian yang besar dari kaum Mukmin saat dirinya telah berketetapan untuk berkepribadian Muslim sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Baginda Nabi Besar Muhammad Al-Musthafa saw.
 
Apa maknanya dari semua ini?
 
Sesungguhnya Allah azza wa jalla sangat menghendaki kaum Mukmin untuk mendekati Diri-Nya.
 
Melalui Jibril as, al-quran telah diturunkan ke dalam hati beliau.
 
“Katakanlah: Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al Qur'an) ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Baqarah: 97).
 
Ke dalam hati, al-quran diturunkan.
 
Dan, inilah yang sudah sepatutnya kaum Mukmin untuk memperhatikan hatinya sendiri.
 
Terkait dengan apa yang harus diperbuat di dalam hati, Allah telah menegaskan:
 
“Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’raaf: 205).
 
Sangat jelas, dari ayat tersebut, Allah sangat menghendaki kaum Mukmin untuk berzikir di dalam hati.
 
Perintah Allah ini sesungguhnya sangat wajib untuk diamalkan sekiranya sangat berharap dapat memenuhi apa yang menjadi kehendak Allah.
 
Hatilah yang telah ditunjuk oleh Allah kepada kaum Mukmin untuk mendekati Diri-Nya.
 
Dengan berzikir menyeru asma-Nya, sesungguhnya Allah sangat mengetahui dan mendengar apa yang dibisikkan hatinya.
 
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya,” (QS. Qaaf: 16).

Cara Memulai Mengenal Kehendak Allah

Berjuang untuk mengenali kehendak Allah pada diri harus dimulai dengan cara seperti itu, yaitu ada kesediaan akal dengan penuh kesadaran untuk aktif mendengarkan hati berzikir.
 
Inilah yang disebut dengan proses penyucian jiwa.
 
“sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 9-10).
 
Sangat musykil dalam keadaan hati kotor seseorang dapat mengenali kehendak Allah di dalam dirinya.
 
Seperti telah diketahui bahwa Allah adalah Tuhan Yang Maha Suci, maka kebersihan atau kesucian jiwa merupakan syarat yang harus ditempuh untuk mengenal Allah secara lebih dekat.
 
Jadi, sekali lagi, proses penyucian jiwa telah diterangkan oleh Allah untuk melapangkan jalan menuju kepada keridaan-Nya bagi kaum Mukmin yang sangat mendambakan Allah memperkenalkan Diri-Nya hingga mengenali apa yang sesungguhnya Allah kehendaki atas dirinya.
 
Dalam perjuangannya untuk mengenali kehendak Allah dalam diri, maka berzikir khofi yang dilakukan di dalam hati harus dibawah bimbingan dan pengajaran seorang wasilah.
 
Kaidah ini harus diikuti sebagaimana yang telah diajarkan oleh Allah melalui perantaraan Nabi saw di dalam al-quran:
 
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan) yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Al-Maidah: 35).
 
Wasilah atau jalan yang memperantarai kaum Mukmin dalam berzikir khofi, dengan apa yang telah diturunkan dan diajarkan kepada Baginda Nabi Besar Muhammad saw. maka Allah telah menunjuk ahli zikir sebagai rujukannya.
 
Keridaan Allah menjadikan ahli zikir sebagai wasilah, tentu saja, itu merupakan hak mutlak Allah yang tidak dapat dibantah.
 
Melalui seorang ahli zikir, Allah telah menurunkan petunjuk dan bimbingan-Nya untuk kaum Mukmin yang berjuang menempuh perjalanan ruhaninya menuju kepada-Nya.
 
“Kami tiada mengutus rasul-rasul sebelum kamu (Muhammad), melainkan beberapa orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka, maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui.” (QS. Al-Anbiya: 7).***
________________
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top